Pernahkah dalam kehidupan kita, kita berpikir, kenapa aku tidak jadi seperti dia? Kenapa aku tak tampan, manis, cantik atau apapun itu?
Sobat, sering sekali kita merendahkan diri, merasa kita adalah orang yang paling menderita, yang paling benar-benar tak berharga atau kita berpikir, wah enak ya jadi orang itu, ini, mereka bisa ini, itu dsb. Dan tak jarang pula kita mengandai-andai untuk jadi seperti dia, tetapi sikap itu perlu kita perbaiki, memang benar kita harus memiliki harapan, karena impian, harapan itu mampu memotivasi kita untuk berusaha lebih kuat, tetapi, kita tidak boleh sebaliknya, membuat harapan, keinginan menjadi alat untuk merasa lebih rendah dari yang lain atau kita tidak bersyukur dengan apa yang ada di dalam kehidupan kita, tiap hari selalu mengeluh.
Ada sedikit ilustrasi, mengenai bersyukur
Suatu siang, ada seorang pemahat batu besar, tiap hari ia harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk memahat suatu batu yang ukurannya cukup besar, wow, pasti begitu melelahkan dan sayangnya penghasilannya hanya itu-itu saja, suatu kali ia melihat raja didampingi oleh pengawal-pengawalnya , begitu ia berandai-andai untuk jadi seperti raja itu “Ah, andai diriku jadi seperti Raja yang besar itu, sungguh nikmatnya, pastilah aku kan hidup bahagia selamanya”. Lalu ia melanjutkan istirahatnya, tiba-tiba, “auuuu” teriaknya, ia menduduki sesuatu, sebuah kalung yang begitu indah. Lalu diambilnya kalung itu, ia pakai dan tiba-tiba terdengar suara, “hai pemahat batu, karena kau telah menemukanku, bolehlah 5 permintaan jadi padamu”. Mendengar suara dari liontin kalung tersebut, bahagianya wajah ia, lalu dimintalah kepada kalung itu, “aku ingin jadi raja”. Cliiinnnggg....... Pemahat batu itu saat itu juga telah menjadi raja yang begitu agung, sambil dikenakannya kalung ajaib yang masih tertinggal 4 permintaan di dalamnya, ia pun berjalan-jalan mengenakan tandu yang terangkat oleh para pengawal, sembari pengawal lain menutupi sang raja dari terik matahari dengan payung raja. “Hemmtt, eloknya diriku, para rakyat kini memujaku, tiap aku datang, para rakyat ku sujud menyembahku”. Namun ditengah kebahagiannya, terik mentari begitu benar-benar panas menyengat. Mengeluhlah raja itu, “panas sekali, sungguh besar sang matahari itu, pastilah dia raja dari alam semesta, lihatlah kekuatannya yang begitu besar, andaikan aku jadi matahari”. Cliiinggg.... tiba-tiba ia menjadi matahari, ia begitu merasa istimewa, ia yang terbesar dari semua “ha..ha..ha... kini aku yang terhebat yang paling hebat, tak ada yang bisa menandingiku”. Tetapi tiba-tiba, awan badai besar menutupinya, pikir matahari itu “lho, kenapa aku masih tertandingi, pasti senang jadi awan badai itu, andai aku jadi awan badai itu” dan seketika itu pula ia menjadi awan badai, ia mengadu kekuatannya, ia membuat desa-desa roboh semua roboh terbanjiri, tetapi ada satu hal yang membuat dia heran, sebuah batu besar tak bisa ia robohkan, meskipun dengan sekuat tenaga ia datangkan banjir besar, akhirnya ia pun inginkan jadi batu itu, cliiing... jadilah ia batu yang besar yang tak bisa terandingi, tetapi disuatu kali, datanglah seorang pemahat batu, ia mendekat memeluk batu itu, dipahatnya batu itu dengan kasih sayang, lalu ia terpikirkan “aku masih memiliki satu permintaan tersisa, mungkin aku bisa berharap jadi pemahat batu itu, pasti begitu bahagianya” dan akhirnya cliiiinnggg.....jadilah ia pemahat batu, dan kini ia tak mengeluh lagi, ia suka dengan pekerjaannya jadi seorang pemahat batu.
Sobat, dari ilustrasi di atas, kita diajarkan bagaimana tiap kehidupan ini tak pernah ada yang sempurna, kecuali Tuhan, dan kita diajarkan untuk menjadi diri sendiri, karena menjadi diri sendiri itu indah lho, tak jarang orang juga pernah terpikir untuk jadi seperti kita. So, ayo sobat semua, kita jadi diri sendiri dan selalu bersyukur, Tuhan akan selalu buat kita jadi indah tiap harinya ^^ GBUs





0 komentar:
Posting Komentar